Thursday, December 1, 2022
Jurnal Nusantara
HomeDaerahFGD Refleksi 10 Tahun UU Keistimewaan, Songsong Masa Depan Pendidikan, Pariwisata Dan...

FGD Refleksi 10 Tahun UU Keistimewaan, Songsong Masa Depan Pendidikan, Pariwisata Dan Kebudayaan DIY

JURNALNUSANTARA.NET – Focus Group Discussion Refleksi 10 tahun UU Keistimewaan Yogyakarta dengan topik “Menyongsong Pendidikan, Pariwisata Dan Kebudayaan Yogyakarta Di Masa Depan” digelar oleh Komunitas Budaya Yogya Semesta bersama tim Yogya Semesta, Komunitas Budaya, para pemerhati pendidikan, pariwisata dan kebudayaan serta tamu undangan pada Selasa (6/9/2022) bertempat Paniradya Keistimewaan DIY, Komplek Kepatihan Yogyakarta.

Hadir sebagai narasumber FGD yaitu Ketua Dewan Pendidikan DIY Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, Wakil Ketua Umum KADIN DIY Bidang Pariwisata Arif Effendi dan Kepala Bidang Urusan Kebudayaan Dinas Kebudayaan DIY (Kundha Kabudayan DIY) Nugraha Wahyu dengan moderator Timotius Apriyanto dari KADIN DIY.

Acara FGD ini khusus diadakan sebagai dukungan terhadap satu dasawarsa atau 10 tahun UU Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sekaligus juga untuk menggali saran, masukan dari para nara sumber dan peserta khususnya yang berkaitan dengan bidang pendidikan, pariwisata dan kebudayaan DIY di masa depan.

Ketua Dewan Pendidikan DIY, Sutrisna menyoroti dari sisi pendidikan bahwa sudah banyak hal yang dilaksanakan oleh paniradya terkait dengan pendidikan terutama kaitannya dengan pendidikan dan kebudayaan.

Pendidikan adalah warisan budaya, budaya itu butuh model yang berupa nilai, aktifitas dan artefaknya, dan apa yang disiapkan oleh paniradya sepuluh tahun ini masih banyak kegiatan kegiatan yang sifatnya artefak, benda-benda dan peninggalan kuno saat ini lambat laut berubah mengungkap mengenai nilai nilai yang ada di dalamnya.

“Kami di Dewan Pendidikan yang sedang menginisisasi untuk pendidikan khas kejogjaan akan bisa bersinergi untuk pembinaan kebudayaan itu menjadi salah satu substansi di dalam pendidikan kejogjaan,” papar Sutrisna.

Sutrisna menambahkan, bahwa di era society 5,0 ini pendidikan akan terus berkembang, anak anak generasi milenial atau Z dekat dengan ciri-ciri digital dan pendidikan kebudayaan harus memanfaatkan perkembangan digital ini.

“Kita sudah ada media digital harus dimanfaatkan tidak bisa tidak, fungsi yang pertama adalah dokumentasi semua peristiwa budaya, bisa kita buat youtube atau yang lain. Kita bisa belajar dari sana kemudian media digital itu kita gunakan untuk media pengembangan kebudayaan,” ungkapnya.

“Pertunjukan wayang semalam suntuk bisa difilmkan satu jam misalnya, produk budaya ini memungkinkan untuk memanfaatkan media digital ini,” imbuhnya.

Arif Effendi sebagai narasumber bidang Pariwisata menjelaskan, bahwa KADIN DIY bidang pariwisata sendiri memiliki slogan “Tourism First” yaitu Finest (memberikan yang terbaik), Integrity (melayani dengan kesungguhan), Responsible mengerjakan dengan tanggung jawab), Sincerity (melayani dengan ketulusan) dan Togetherness (mengedepankan suasana kebersamaan).

“Slogan pariwisata itu akan dapat berjalan dengan baik di masa depan dengan dukungan penuh dan sinergitas antara pemerintah, akademisi, komunitas, pelaku usaha dan media atau istilahnya kolaborasi pentahelix,” ungkap Arif.

Sementara itu, Nugraha Wahyu mewakili unsur Dinas Kebudayaan DIY menyampaikan bahwa agenda FGD ini dilaksanakan untuk dapat lebih mengisi mewujudkan keistimewaan Yogyakarta dari tiga sektor yaitu Pendidikan, Pariwisata dan Kebudayaan.

“Saran, masukan dan juga input input ini kami butuhkan dalam rangka ketugasan kami dalam paniradya untuk perencanaan dan pengendalian urusan – urusan kewenangan keistimewaan,” ujar Wahyu.

“Kita melihat saat ini kita tidak bisa lepas dari UU Keistimewaan tetapi kita masih diberikan keleluasaan untuk mengembangkan ide – ide kreatif, salah satunya terkait dengan budaya digital menjadi salah satu prioritas kami dalam peta jalan grand desain ke depan agar bisa mengikuti perkembangan jaman era digital,” ungkapnya.

Menurut Wahyu, serapan anggaran danais selama sepuluh tahun ini mencapai 90 persen lebih dan Lima tahun terakhir ini kita bisa diatas 95 persen baik fisik maupun keuangan.

Prinsipnya dana keistimewaan adalah optimalisasi jadi kita diberi keleluasaan dalam tahun berjalan kita bisa merubah untuk mengoptimalkan, jadi kami berharap betul perubahan ini bisa kita manfaatkan sebaik mungkin, setepat mungkin.

“Sehingga tidak hanya serapannya saja tetapi dari sisi nilai manfaatnya, hasilnya, produknya juga bisa mendukung apa yang menjadi tujuan keistimewaan, kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat menjadi satu hal yang penting untuk kita tuju kesana,” pungkas Wahyu. (rmd)

BERITA TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
dummy_iklan

berita populer

komentar terbaru