Thursday, December 1, 2022
Jurnal Nusantara
HomeDaerahKios Pasar Rakyat Jogja Gumregah Sudah Laku 90 Persen

Kios Pasar Rakyat Jogja Gumregah Sudah Laku 90 Persen

JURNALNUSANTARA.NET – Animo masyarakat untuk berjualan di Pasar Rakyat Jogja Gumregah 2022 cukup tinggi. Hari pertama pendaftaran kios pada 1 September 2022 pagi sudah banyak pedagang yang memadati sekretariat panitia di Jl KH Ali Maksum Gang Melati lll No 87 Krapyak Kulon, Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul.

Ruang tunggu pendaftaran sampai tak muat sehingga calon pedagang meluber ke halaman. Hingga akhirnya 90 persen stand sudah disewa para pedagang dari berbagai wilayah Kota Yogyakarta, Bantul, Sleman serta luar daerah.

Produk yang dijual beraneka ragam, mulai dari kuliner, fashion, otomotif, kerajinan, kosmetik dan lainnya. “Panitia masih menunggu peminat baru,” kata Widihasto Wasana Putra selaku penyelenggara Pasar Rakyat Jogja Gumregah, Rabu (7/9/2022).

Event pasar rakyat ini dikonsep laiknya Pasar Malam Perayaan Sekaten yang dahulu rutin digelar di Alun-alun Utara Yogyakarta. Hasil kolaborasi Sekretariat Bersama Keistimewaan DIY, Altar Ria Production dan Pola Prakarya.

Ketua Harian Pasar Rakyat Jogja Gumregah, Inung Nurzani, S.Sos, mengatakan, pihaknya berusaha memaksimalkan lahan yang ada. “Agar dapat menampung banyak  kios,” kata Inung.

Berdasarkan lay out, saat ini tersedia 203 kios. Dan kemungkinan jumlah tersebut masih akan bertambah.

Berdasarkan pengalaman Inung ketika menggelar pasar malam, jumlah kios bisa saja bertambah jika nanti tenda-tenda sudah didirikan. “Kemungkinan ada ruang-ruang kosong yang dapat dimanfaatkan untuk menampung pedagang yang belum kebagian tempat,” terangnya.

Panitia menyediakan kios dua jenis tenda: tenda sanavil dan tenda standar berukuran 3 x 3 meter dan 4 x 3 meter.

Tenda-tenda itu akan dibuat per blok dengan masing-masing blok berisi 6 kelompok tenda. Total ada 24 blok yang terkoneksi dengan akses jalan selebar 3 meter hingga 5 meter.

“Kami hanya menyediakan tenda saja, untuk perlengkapan lain seperti meja, kursi, partisi diupayakan sendiri oleh pedagang,” jelas Inung.

Di luar itu ada dua lokasi yang peruntukannya untuk wahana permainan serta satu panggung kesenian serta area parkir kendaraan yang luasannya sekitar 20 meter dengan panjang 111 meter. “Jika area ini tak menampung akan dilayani oleh jasa parkir masyarakat sekitar,” papar Inung.

Panitia menyediakan fasilitas instalasi listrik, di mana biaya pemakaiannya disesuaikan dengan penggunaan. Dan panitia mewajibkan pedagang menggunakan layanan daya listrik PLN yang disiapkan oleh CV Harco. “Kami melarang penggunaan genset karena berpotensi menimbulkan kerawanan,” ungkapnya.

Diharapkan tenda-tenda kios akan mulai didirikan pada H-2. Semua tenda itu sudah berdiri dan para pedagang dapat mempersiapkan tempat sebaik-baiknya.

Ketua Sekber Keistimewaan DIY, Widihasto Wasana Putra, menyambut baik animo tinggi para pedagang. “Antusiasme para pedagang menunjukkan bahwa perekonomian masyarakat sudah mulai bangkit paska pandemi Covid-19,” kata Widihasto.

Menurutnya, ajang Pasar Rakyat Jogja Gumregah ini punya tiga nilai esensial. Pertama, turut menggairahkan geliat ekonomi para pelaku UMKM mulai dari kuliner, kerajinan, oleh-oleh dan sebagainya.

Keberadaan sektor UMKM tidak bisa dipandang sebelah mata. “Meskipun perputaran nilai uangnya kecil, namun karena secara kuantitatif jumlahnya sangat banyak sehingga angka kumulatifnya turut menggerakkan perekonomian,” kata Widihasto.

Esensi kedua, dapat menjawab kerinduan masyarakat terhadap gelaran Pasar Malam Perayaan Sekaten yang membawa kenangan akan jajanan khas seperti ndog abang, sego gurih, bolang-baling dan lainnya. “Produk kuliner khas itu adalah produk lokal yang selayaknya terus diangkat,” kata Widihasto.

Selain itu, wahana hiburan seperti tong setan, komedi putar, gua hantu dan lainnya bisa jadi penyeimbang di tengah kecenderungan anak-anak yang melulu berkutat pada mainan gadget.

Esensi ketiga, pemanfaatan lahan. Sejak dibeli Pemda DIY tahun 2018 lahan eks STIEKERS belum termanfaatkan dengan baik. Adanya aktivitas Pasar Rakyat Jogja Gumregah — meskipun sifatnya temporer — dapat memberikan kemanfaatan ekonomi kepada banyak pihak.

Selain itu, pemanfaatannya bisa membuka ruang publik baru bagi masyarakat setelah ruang-ruang publik yang ada telah banyak berkurang.

Koordinator Panggung Kesenian Pasar Rakyat Jogia Gumregah, Nano Asmorodono, mengatakan, sejauh ini respon para pelaku seni pertunjukkan untuk tampil sangat tinggi. Sudah terdaftar 30 grup kesenian atau sanggar. Termasuk kelompok kesenian kethoprak: grup Bhayangkara, Suara Kenanga, Arma Budaya.

“Selain itu juga ada kelompok jathilan, reog, tari-tarian, hadroh, dan lainnya,” kata Nano Asmorodono, yang menerangkan pihaknya masih membuka pendaftaran bagi kelompok seni yang ingin tampil.

Adanya pentas kesenian itu masyarakat semakin tertarik untuk datang ke Pasar Rakyat Jogja Gumregah. Selain itu juga sebagai media edukasi budaya terhadap masyarakat agar tidak melupakan akar budayanya.

Ditemui di sela-sela pendaftaran stand, Ardian Aprianto, warga kampung Kauman, Kemantren Gondomanan, Kota Yogyakarta, mengaku siap menjual nasi gurih dan ndog abang. “Makanan ini menjadi ikon tatkala ada Pasar Malam Perayaan Sekaten,” ungkapnya.

Pasar Rakyat Jogja Gumregah diharapkan bisa mengobati rasa kangen masyarakat terhadap sekaten.

Pedagang yang mendaftar Pasar Rakyat Jogja Gumregah ada yang berasal dari Pangkalanbun Kalimantan Tengah. Fahmi Fredyansyah, alumni Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta menekuni bisnis minuman es.

Yogyakarta adalah kota yang penuh dengan adat tradisi, di mana orang-orangnya menjungjung tinggi keramah-tamahan dan kotanya sangat ngangeni. (Fan)

BERITA TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
dummy_iklan

berita populer

komentar terbaru