Saturday, February 24, 2024
Jurnal Nusantara
HomeDaerahSape, Pesona Alat Musik Khas Dayak Pikat Generasi Milenial Di Ajang Formekers...

Sape, Pesona Alat Musik Khas Dayak Pikat Generasi Milenial Di Ajang Formekers Goes To Campus #2

JURNALNUSANTARA.NET – Gelaran Formekers Goes To Campus (FGTC) #2 yang diselenggarakan pada Sabtu, 25 November 2023 oleh Koperasi Pemasaran Formekers Kriya Utama di Gerai Decomekers, Galeria Mall Lantai 2, kembali menarik perhatian para pesertanya dengan penampilan Adventino Danu yang memainkan alat musik tradisional khas suku Dayak “Sape” atau juga biasa disebut “Sampe.”

FGTC #2 selain menghadirkan sinergi antara dunia usaha dan dunia pendidikan melalui ajang “sharing knowledge” dan dialog interaktif, juga menjadi wadah bagi pecinta seni dan budaya untuk dapat mengeksplore dan menunjukkan bakat – bakat yang mereka miliki.

Penampilan Adventino Danu dengan alat musik tradisional Sape menjadi magnet tersendiri bagi sekitar 25 mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dosen pendamping Dony Arsetyasmoro S.Sn., M.Ds., dua narasumber FGTC, Agus Sriyono dan M. Faisol, pemandu acara Agung Wicaksono dan Itock Van Diera serta pengurus Koperasi Formekers Kriya Utama dan Gerai Decomekers.

Alat musik Sape terbuat dari kayu Adau yang melimpah di Kalimantan, Sape menghadirkan keindahan corak ukiran khas Suku Dayak, yang mendominasi permukaannya dengan panjang sekitar 1 meter. Alat musik ini dipetik seperti gitar, menghasilkan alunan yang begitu memikat. Apa yang membuatnya menarik adalah kemampuannya untuk dapat berkolaborasi dengan alat musik modern seperti gitar, bass, keyboard dan drum.

Diungkapkan oleh Tino sapaan akrab Adventino, Sape bukan hanya sebagai pelengkap tari tradisional Dayak dalam perayaan seni, tetapi juga konon digunakan dalam upacara ritual penyembuhan.

“Alat musik Sape ini dari Kalimantan khususnya Dayak Apokayan yang penyebarannya di Kalimantan Timur dari sebelah Malaysia dan juga Kalimantan Barat, biasa dimainkan untuk ritual Belian atau penyembuhan,” ungkapnya.

“Ketertarikan saya terhadap musik tradisional ini karena saya anggap ini jadi nilai jual yang sangat eksotis, harusnya kita bangga dengan ini karena alat petik Sape ini punya keunikan, dan ukiran ukiran yang nilai estetikanya tinggi, “ tambahnya.

Tino yang juga merupakan mahasiswa program studi Etnomusikologi lulusan ISI Yogyakarta itu juga menyampaikan apresiasinya kepada tim kreatif acara FGTC #2 karena sudah memberikan tempat bagi unsur seni dan budaya di acara Diskusi Creative – Preneur Kewirausahaan Kreatif tersebut.

Dimasukkannya unsur seni dan budaya dalam kegiatan Formekers Goes To Campus ini menjadi bukti bahwa seni dan budaya tradisional bisa menjadi sarana yang efektif untuk menghadapi dampak modernisasi dan kemajuan teknologi bagi generasi milenial.

Semangat perpaduan antara dunia usaha, pendidikan, keindahan seni dan budaya serta perkembangan zaman menjadi landasan kuat bagi Formekers Indonesia dalam menjaga dan mengembangkan kegiatan Formekers Goes To Campus ke depannya. (rmd)

BERITA TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

berita populer

komentar terbaru