Saturday, November 26, 2022
Jurnal Nusantara
HomeRagamMarenggo Batik Jadikan 'Tanah Basah' Capaian Karya Indah Dalam Proses Membatik

Marenggo Batik Jadikan ‘Tanah Basah’ Capaian Karya Indah Dalam Proses Membatik

JURNALNUSANTARA.NET – Batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia. Saat ini popularitasnya sudah diakui dunia dan dibuktikan dengan adanya pengukuhan oleh UNESCO sejak Oktober tahun 2009, bahwa batik sebagai warisan budaya milik Indonesia.

Pengetahuan tentang batik tidak hanya sebatas motif dan produk kain lokalnya saja, melainkan juga dalam proses produksinya termasuk dari sisi proses pewarnaannya, apakah itu berbahan dasar pewarna alami atau bahkan pewarna sintetis.

Sebelum ditemukannya pewarna sintetis sebagai pewarna batik seperti sekarang ini,pewarnaan batik menggunakan pewarna alam adalah satu-satunya pewarna batik. Namun seiring dengan berjalannya waktu sejak ditemukannya pewarna sintetis yang lebih mudah dalam proses dan juga lebih murah, lambat laun pewarna alami mulai ditinggalkan oleh para pengrajin batik dan membuat batik warna alam tidak berkembang bahkan ditinggalkan.

Melihat fenomena diatas Nuri Ningsih Hidayati yang merupakan sarjana tekstil lulusan ISI Yogyakarta tergerak hatinya untuk mengembalikan kejayaan Batik Warna Alam dengan mendirikan usaha batik bernama “Marenggo” yang beralamat dusun Karongan RT06/RW12 Kalurahan Jogotirto Kapanewon Berbah Kabupaten Sleman, D.I Yogyakarta.

Nuri yang juga merupakan anggota dari Forum Mebel Kerajinan dan Seni (Formekers) Indonesia saat ditemui awak media di pameran Festival Batik 2022 Jogja Expo Center beberapa waktu lalu mengatakan, bahwa kelebihan dari batik dengan pewarna alami salah satunya yakni tidak mencemari lingkungan.

“Pewarna alami untuk batik warna alam ini bisa berasal dari tumbuhan baik itu akar, kulit, kayu, daun, bunga ataupun buahnya bahkan dari tanah juga bisa seperti yang saya tampilkan saat ini dengan proses ‘TANAH BASAH’,” ungkap Nuri sambil menunjukkan hasil kain batik warna alamnya.

“Berbeda dengan warna sintetis, pewarna alami tidak mencemari lingkungan karena bahan-bahan terbuat dari bahan alami sehingga limbah bisa terurai oleh tanah,” katanya.

Nuri menuturkan, bahwa perjalanan berkarya dalam mewarna kain menggunakan bahan dasar alam menjadi sebuah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, namun sangat menyenangkan. Terkadang kecewa dengan hasil pewarnaan, malah justru sangat kagum dan bahagia dengan hasil warna di luar dugaan.

“Alam dengan segala kebaikannya menyimpan misteri yang sarat akan pesan. Daun, kayu, bunga, dan buah adalah elemen alam yang kami olah dari tahun ke tahun. Dari Kayu, Nangka, Secang, Tegeran, Tingi, Soga dan Mahoni yang menghasilkan warna alam yang indah,” jelasnya.

“Marenggo, Indigo, Mangga, Rambutan, dan daun Jambu adalah sederetan nama dedaunan yang sampai sekarang masih kami olah karena karakter warna yang lembut dan meneduhkan,” imbuhnya.

“Kemudian pewarnaan menggunakan kulit buah Jolawe dan Manggis juga menjadi uji coba kami dalam mengembangkan warna alam,” imbuhnya.

Nuri mengungkapkan, bahwa Marenggo tahun lalu mencoba untuk mengembangkan proses pewarnaan alam yang berbahan dasar Tanah dengan mengumpulkan berbagai macam tanah yang diambil sebagai sampel penelitian.

“Sebuah penelitian yang membuat kami merasa “dituntun” kembali untuk merenungkan awal mula tanaman berasal, tanaman yang lahir dan tumbuh dari tanah. Tanah terbaik menghasilkan sesuatu yang baik,” ungkapnya.

Seri Motif Tanah Basah Marenggo Batik (Foto: Rahmad Soemardi/JurnalNusantara.net)

“Tanah yang kami ambil berasal dari lapisan terdalam tanah, ditumbuk dan diuleni bersama air yang mengingatkan kami akan masa kecil ketika bermain masak-masakan dengan tanah,” imbuhnya.

“Tanah Basah, adalah sebuah pengingat untuk selalu merawat bumi yang kita pijak,menebarkan kasih sayang ke lebih banyak orang,dan sebagai pengingat diri untuk terus tumbuh namun selalu ‘menapak tanah’ di bumi kita tercinta,” pungkasnya.

Sementara itu GKBRAY Paku Alam X dari Kadipaten Pakualaman atau Gusti Putri yang berkesempatan datang mengunjungi stand Marenggo di pameran Festival Batik 2022 di JEC memberikan apresiasi yang lebih atas karya Marenggo dengan Tanah Basah dan berbagai motif batiknya.

“Warna alam Tanah Basah ini adalah merupakan capaian karya yang indah buat Marenggo dari sebuah karya dalam proses membatik,” ujar Gusti Putri.

Seri motif Tanah Basah dari Marenggo Batik ini diantaranya adalah motif Garis Kasih Tanah Basah, Kembang Marenggo Tanah Basah, Akar Tanah Basah, Tanah Basah Jogotirto 2, Pagi Sore Tanah Basah, Sulur Kembang Marenggo, Tritik Kembang Marenggo, Truntum Marenggo, Garis Kembang Marenggo, Udan liris Kembang Marenggo, Parang Kembang Marenggo dan masih banyak lagi seri motif yang lain. (rmd)

BERITA TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
dummy_iklan

berita populer

komentar terbaru