Thursday, December 1, 2022
Jurnal Nusantara
HomeSeni & BudayaPameran Seni Lukis “Hiduplah Semulianya” Sambut Seabad Ajaran Tamansiswa

Pameran Seni Lukis “Hiduplah Semulianya” Sambut Seabad Ajaran Tamansiswa

JURNALNUSANTARA.NET – Pameran Seni Lukis bertajuk “Hiduplah Semulianya” dalam rangka menyambut seabad ajaran Tamansiswa digelar dari tanggal 15 – 22 Juli 2022 bertempat di Hall Kampus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa ( UST ) Jl. Batikan, UH-III Jl. Tuntungan No.1043, Tahunan, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55167

Dr.Drs. Hadjar Pamadhi, MA.Hons selaku kurator pameran seni lukis ini mengungkapkan “Hiduplah Semulianya” terinspirasi kalimat bijak dari Ki Hadjar Dewantara. Hiduplah semulianya adalah ajakan hidup yang terpilih berada pada garis mulia; hidup yang bermartabat, tersohor, menjadi panutan dan terpilih karena mempunyai wibawa besar.

Memasuki dwi abad perahu Tamansiswa akan mengajak penumpangnya berlayar menuju hidup semulianya. Melalui dasar pendidikan dan kebudayaan membawa insan Tamansiswa ke dunia barunya, dimana pendidikan itu adalah kebudayaan; karena orang yang terdidik adalah orang yang berbudaya, Ungkap Hajar Pamadhi.

Hajar menuturkan, demikian pula sebaliknya, orang yang berbudaya adalah orang yang terdidik. Orang berkebudayaan adalah orang hidup semulianya. “Sosok mulia adalah orang yang tidak tercela dalam tindakan, pikiran serta budi pekertinya. …budi pekerti, tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka (berpribadi), yang dapat memerintah atau menguasai diri sendiri. Inilah manusia beradab dan itulah maksud dan tujuan pendidikan dalam garis besarnya’ (Ki Hadjar Dewantara),” tuturnya.

Pameran seni lukis kali ini mengundang dan menampilkan para ‘seniman mulia’ agar mampu menginspirasi seniman Tamansiswa Muda, mereka adalah Affandi, Kartika, S.Sudjojono, Bagong Kusudiarjo, Lion Sahar, Nasyah Jamin, Amri Yahya, Gambir Anom, Rais Royan, Joko Pekik, Sindhusisworo, Tino Sidin, Nasirun, Syahnagra, Dyan Anggaraini, Harjiman, Widayat, Nunuk Ribanu, Ipong Purnama Sidhi, Y. Eka supriyadi, Crysnanda, Laila Latifa, Dosen – Mahasiswa – Alumni UST.

Karya yang terpajang ini dapat dibagi dalam dua bagian penting, yaitu karya-karya yang reprsentasional dan non representasional. Objek material karya representasional menghadirkan realisme sosialisme dan realisme impresionistik, dan karya nonrepresentasional condong membawa abstraksionisme dan ornamentika ideologi.

Sederetan pelukis Djoko Pekik, Lian Sahar, Nasjah Jamin, Sindhusisworo, Gambir Anom, Batara Lubis, Dian Anggraeni, Ipong Purnomosidhi, Itji Tarmidzi, Tino Sidin, Laila Tifa, Chrisnanda, Sudadiono lebih memilih realisme sosialisme mengikuti jejak S. Sudjojono. Pelukis-pelukis ini mereprsentasi objek formal kehidupan sosial serta meninterpretasi kehidupan lingkungan maupun dirinya.

Djoko Pekik melalui hidup perasaan dan pikiran semulianya memilih dan merepresentasikan alam sosialnya. Sementara Nasirun; sosok pelukis yang telah menawarkan pikiran dan gagasan menjulang dan beringas dengan ‘semulianya’ ini menafsirkan bentuk-bentuk ekspresif dengan isian ornamentik.

Hajar Pamadhi menambahkan bahwa pameran seni lukis oleh para pelukis menyambut seabad ajaran Tamansiswa merupakan catatan visual. Jauh sebelumnya Ki Hadjar Dewantara pernah menungkapkan bahwa hiduplah semulianya dengan jiwa merdeka untuk menampilkan dalam nuansa berbeda,yaitu nuansa visual dalam era budaya visual.

Jika sebuah novel tertulis dengan frasa dan parafrasa, maka karya seni lukis yang dipajang ini juga sebagai frasa dan prafrasa visual. Abad visual culture membawa bentuk-bentuk ajaran Ke Hadjar Dewantara dalam catatan visual, tambahnya. (rmd)

BERITA TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
dummy_iklan

berita populer

komentar terbaru